Jumat, 24 April 2020

Salah, hah? Mana?

Menjalani hidup dengan mengabaikan masa lalu memang pilihan yang baik. Setidaknya menurutmu. Kalo dirasa ada kesalahan, tinggal bertobat. Toh, rahmatNya selalu mendahului murkaNya. Klo kebetulan bersinggungan dengan orang lain, ya kalau bisa minta kerelaan hati dan permaafannya. Klo ga bisa dan gengsi buat minta maaf, tinggal dido'akan saja si orang itu. Do'a yang baik-baik sebagai penebus kesalahan.
Jadi kalo si orang itu masih sering nongol sampai taraf mengganggu dan bisa dicatatkan dalam delik aduan pidana perbuatan tidak menyenangkan, padahal maksudnya ya menagih, "hei, kelakuanmu kemaren itu salah lho. Masak ga paham? Adab menolak bukan seperti itu! Itu namanya merendahkan! Ya meski perkara yg sebelum-sebelumnya memang aku punya andil salah juga sih. Sejujurnya bukan penolakanmu, tapi caramu menolak atas niat baikku kemaren sungguh keterlaluan dan di luar nalar! Ditolak saja sudah pasti kecewa, apalagi dengan cara seperti itu! Ini sengaja caper di depanmu minimal biar dapat basa-basimu buat menyebut kata maaf atas momen kemaren itu. Ya, biar ada alasan buat memberi maaf, sekalipun mintanya cuma basa-basi". Tinggal kau sampaikan saja kepada orang itu, "Anda sudah saya do'akan yang baik-baik. Jadi jangan ganggu saya lagi". Hingga orang itu pun cuman bisa bengong, "Dia salah, hah? Salah nya mana?". 

Di tengah kebengongannya, lamat-lamat terselip prasangka di pikirannya, "hoiya, hijrahnya mengantarkannnya pada cahaya. Manusia yang tercahayai, pasti selalu dalam naungan hidayahNya. Hidayah tidak mungkin salah. Sesalah apapun perangainya menurutku, pasti teranulir oleh hidayah yang digapainya. Bukankah Tuhan Maha Memberi Hidayah sekaligus Maha Menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya? Pasti dia yang mendapat hidayah dan sebrengsek apapun dia menurutku, pastilah dia selalu benar. Sementara aku pastilah pihak yang disesatkan, berhabitat di gelapnya palung kedholiman. Berbekal hujjah menggunung pun, wajib dianggap sebagai kesalahan."

Memang orang dholim sudah sepantasnya diperlakukan seperti itu. Berlaku brengsek kepada orang dholim adalah kebenaran haqiqi. Mengindahkannya adalah kesalahan fatal. Tidak layak meminta maaf pada pihak yang berlaku dholim. Maka "hidayah" yang sampai kepadamu untuk  mengabaikan orang itu adalah wahyu paripurna yang akan mengangkat maqammu sejajar wali-wali. Bukankah pendapat wali sekaliber Syaikh Ibnu Atha'illah Al-Iskandari pun sudah bisa kau koreksi? Itu menandakan kedudukanmu sudah di atas beliau, melebihi para wali di penjuru negeri ini.

Mau berlaku seperti apapun, yang namanya ahli hidayah selevel wali sepertimu, pasti memiliki esensi dan haqiqat kebenaran yang luput dari pandangan mata si dholim. Berrelasi dengan siapapun, memuaskan nafsu sebagaimanapun, pasti memiliki pembenarannya. Lha wong dituntun langsung oleh hidayahNya kok.

Biarkan saja si dholim itu terus bergumam, "Dia salah, hah? Mana...??". Meski di dalam hatinya selalu eksis endapan kesumat dendam, "Masak gak salah kok bisa menyisakan residu dendam seperti ini?". Maka si dholim pun cuman bisa berserah, sambil sesekali mengutuk, namun tetap dengan pamrih meminta: "Ya Robbi! yasudah, tidak perlulah Engkau menghidayahi dia untuk kembali mengindahkan hamba atau minimal menyebut kata maaf kepada hamba. Tapi mbok ya Paduka angkat rasa dendam ini. Karena nampaknya meski dengan dia menyebut kata maaf pun, tanpa perkenan dari Paduka, dendam ini sepertinya tetap membekas dan sukar terangkat. Dia dan kubunya pasti berlaku demikian sesuai dengan petunjukMu. Dan petunjukMu pastilah benar. Bagaimana mungkin hamba bisa dendam pada kebenaran? Kecuali Paduka memang menghendaki hamba menuntutnya di majelis hisab-Mu. Maka dengan perkenanMu pula, matikan hamba dengan tetap membawa dendam ini. Tapi Padukan kan Maha Rohman-Rahim, sejujurnya mbok ya dibikin saja dia mengindahkan hamba kembali. Dan entah gimana caranya yang terserah Paduka, yang Paduka skenariokan sendiri jalannya, keinginan terdalam hamba kepada dia mbok ya Paduka perkenankan. Paduka kan 'alaa kulli syai'in qadiir".

Agaknya si dholim semakin dalam palung kedholimannya. Bagaimana mungkin menuntut kebenaran di majelis hisab-Nya kelak? Dasar!

Maka, duhai wali agung yang dengan eksklusivitas cintaNya kepadamu sehingga kewalianmu disamarkanNya,  yang begitu digandrungi dan dicintai oleh si dholim, tetaplah berlaku abai dan cuek pada si dholim itu. Karena dengan begitu, kedholimannya akan bermuara kepadamu saja, tidak menjalar kepada yang lain. Biarkan sampai mati dia terus bergumam, "Dia salah, hah? Mana..??", Meski diam-diam dia terus meminta "allahummaj'alhaa khoirun lii, waqdurha lii, wayassirha lii, birahmatika yaa arhamarraahimiin". Namun dengan sedikit kesadaran kehambaannya dia menambahi "rabbii inni limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir". Tapi tetap mem-fetakompli dengan "innamaa amruhuu idzaa arooda syai'an ayyaquula lahuu, kun fayakuun".

Begitulah kelakuan si dholim. Meminta pun tetap saja dholim. Abaikan terus sebagaimana yang dihidayahkan sekarang kepadamu. Sampai Dia berkenan menghidayahimu sebagaimana permintaan si dholim. Atau sekehendak Dia saja, menghidayahimu seperti apa. Toh si dholim mau berlaku sedholim apapun, tak akan pernah lepas dari rahmatNya. Nanti si dholim juga bakal paham sendiri, kondisi apapun yang dia terima, itu adalah wujud rahmatNya juga. Tapi untuk sekarang, level pembelajarannya masih pada taraf menggerutui rasa dendamnya sendiri dengan terus menggumam:

"Dia salah, hah? Mana..???"

Termasuk kalau sampai mati pun, si dholim tetap berlaku demikian. Maka biarkan saja. Itu ganjaran yang pantas buat dia yang dholim. Tenang saja kalau dituntut di majelis hisabNya. Toh sudah pasti engkau dibelaNya.
Wali sepertimu, berlaku sesuka-sukamu saja, karena itu sudah pasti mauNya juga. 

Dasar dholim! Sudah tau kalo dirinya dholim kok masih suka mengatur-atur Tuhannya! Barangkali dia tidak memiliki informasi yang cukup sehingga membuat pandangannya cupet dan berakibat dholim seperti itu. Tapi mau menggali informasi dari mana? Toh dia tidak memiliki akses untuk memperoleh informasi yang valid. Jadinya dholim dengan memprasangkai segala hal terkait dirimu, lantas semakin terjerumus kedholimannya, menyangka prasangkanya sebagai realita. Untungnya si dholim masih ditakdirkan untuk rajin berdo'a. Meski doanya penuh pamrih dan tendensius, semoga saja kelak ditakdirkan juga untuk beredo'a dengan kadar penghambaan yang lebih tinggi lagi kualitasnya.

Buat wali sekaliber dirimu, rahmatNya pasti terus mengalir, membanjiri seluruh dimensimu. Kelak, engkau pasti dipersilakan memasuki surgaNya.


Rabu, 23 Oktober 2019

Aku yang Maha Aku

Pada titik kesadaran tertentu, ada persepsi bahwa segala yang kita perbuat,  segala yang kita alami, semua kejadian yang menimpa kita, adalah kehendak Sang Maha. Pada kesadaran itu pula, sangat wajar muncul keyakinan bahwa segala keputusan kita, semata-mata hanyalah sebagian dari keputusanNya. Apapun resiko dari keputusan itu. Memang tidak bisa dibantah kebenaran pandangan ini. Yang jadi persoalan adalah: ketika terlalu teguh berprinsip demikian, namun abai dengan liyan, maka 'aku' akan menjelma Sang Maha Aku. Sangat rentan tergelincir untuk berlaku sekehendak 'aku' dengan dalih Sang Maha Aku memang berkehendak seperti itu. Namun ada hal yang agaknya kurang diperhatikan: Sang Maha Aku ternyata juga berlaku sama pada semua 'aku' yang berdiaspora di seantero semesta.
Maka dalih: "keputusanku ini semata-mata adalah kehendak Tuhan, maka terimalah!", akan beradu dengan argumen: "Hei, kehendak Tuhan juga ambil peranan sehingga aku melakukan ini!".
Ruwet?? Yaa memang!

Maka seperti Sang Maha Aku "bocorin" sendiri:

قُلۡ إِن ضَلَلۡتُ فَإِنَّمَاۤ أَضِلُّ عَلَىٰ نَفۡسِیۖ وَإِنِ ٱهۡتَدَیۡتُ فَبِمَا یُوحِیۤ إِلَیَّ رَبِّیۤۚ إِنَّهُۥ سَمِیعࣱ قَرِیبࣱ
[Saba':50]

Jumat, 13 September 2019

Tadabbur Ajal

*Sejak setaon lalu, pengen 'nggambleh' bab ini.. Tapi tiap kali posting, selalu gagal dan terhapus. Cb posting judulnya doank, apakah 'ajal' gagal postingnya udh nyampe?

Rabu, 16 Mei 2018

Puasa, pause

Bukankah musik bisa dinikmati ketika ada irama yang turut mendasari..? Sementara irama sendiri adalah manajemen 'jeda', supaya bunyi bisa memiliki 'pola'. Nada yang teruntai tanpa diselipi jeda bukankah sangat membosankan?
Bahkan bisa jadi ‘jeda’ adalah semesta musik itu sendiri. Dia kanvas yang menampung seluruh bunyi.

Pada konteks yang lain, bukankah munculnya kehidupan di bumi lantaran adanya 'jeda’ yang presisi antara dia dan matahari?
Adanya tatanan sosial dlm sejarah panjang peradaban manusia, bukankah tentang manajemen 'jeda’ dalam hubungan mu'ammalah mereka?

Maka mereka yang selamat, mereka yang hidupnya musikal, adalah mereka yang pandai dalam mengatur 'jeda’. Presisi menempatkan diri. Paham dalam mengelola batasan. Karena konon, puncak dari kebebasan adalah pemahaman atas batasan-batasan.

Barangkali di situlah puasa diperlukan.

Puasa, pause.

Senin, 07 Mei 2018

Neraka Surgawi

"Muridku, tahukah kamu kalau konon ada neraka tapi wujudnya surga?", tanya sang guru pada muridnya.

"Tidak, guru. Neraka apakah itu?", jawab si murid.

"Dia sama sekali bukan neraka secara wujud, tapi memang surga. Engkau diizinkan memasukinya. Tapi satu hal yang menyiksa, engkau sama sekali diabaikan oleh Pemiliknya.", pungkas sang guru.

Minggu, 06 Mei 2018

"Allahumma salak"

Seseorang sedang sangat mendambakan salak. Lantaran satu ketika dia tak sengaja melihat sebuah salak, di saat dia memang sedang mengalami lapar, dahaga, dan kerinduan yang amat dalam. Bukan kepada salak lapar, dahaga, lapar, dan rindunya tertuju, tapi dengan adanya salak, dia menyangka lapar, dahaga, dan rindunya bisa terbayarkan. Maka mulailah dia bertekad untuk bisa memiliki salak. Dia meyakin-yakinkan dirinya, bahwa memang salak-lah hal yang memang dia butuhkan. Dia berprasangka bahwa salak adalah jawaban atas pencariannya yang dikirimkan Tuhan. Maka dia pun terdoktrin oleh keyakinannya sendiri, mengimani persepsi hatinya sendiri, menganggap nyata prasangka yang dia tanam sendiri. Niatnya membulat, tekadnya membaja, salak adalah wujud paripurna atas jawaban yang selama ini dia minta.
Tak ayal, setiap saat dia membatin permohonan padaNya, biar salak segera bisa dimilikinya. Dalam setiap 'persapaan' denganNya, wirid dan do'a tak pernah surut dilantunkannya, "Allahumma salak, allahummma salak, allahumma salak....", begitu seterusnya. Hingga pada suatu ketika, diutusNyalah Jibril kepada orang itu, dan diperintahkanNya untuk membawa berbagai macam rizki dan fadhilah dariNya berupa Apel, Anggur, Pir, Durian, namun tidak ada Salak. Jibril patuh dan segera melaksanakan titahNya. Sesampai di dekat si orang pendamba salak, Jibril mulai ragu, benarkah semua rizki ini diperuntukkan bagi orang tersebut, lantaran Jibril mendengar lirih do'a yang selalu dipanjatkannya, "allahumma salak, allahumma salak, allahumma salak....". Maka pulang baliklah Jibril menghadap Tuhan. Sesampai di hadapanNya, Tuhan bertanya pada Jibril, "Kok kamu balik ke sini lagi, Jibril? Sudahkah kamu kasihkan rizkiKu pada hambaKu itu?" . Dengan kikuk Jibril menjawab,  "Maaf wahai Tuhanku, hamba tidak mendapati permintaannya ada di list rizkiMu yang hamba bawa atas perintahMu itu, Tuhan." Tuhan pun tersenyum, "Baiklah, tahan saja dulu. Hambaku itu menyangka dia tahu apa yang dia butuhkan, padahal Aku lah yang Maha Mengetahui."

*terinspirasi dari respon Mbah Nun atas pertanyaan salah satu Jama'ah Maiyah di suatu forum Maiyahan

Jumat, 04 Mei 2018

Ego"Tinggal Kelas"

Ketika dirimu menyukai, gandrung, mencintai sesuatu, sebenarnya yang menikmati rasa suka, gandrung, dan cintamu itu  obyek yang kau cintai ataukah dirimu sendiri? Jangan-jangan semua itu hanya bagian dari hasrat pemenuhan keinginanmu, ambisimu, ego pribadimu? Jangan-jangan semua itu sekedar hubungan transaksional belaka?  Lagi-lagi, dalam rangka pencapaian rasa puasmu terhadap segala hal yang kau sangka sebagai prestasi, keunggulan diri atas liyan, prestise dan pamor yang melonjak tinggi, minimal rasa puasmu terhadap pemenuhan 'ketenangan' batinmu sendiri.

Atau memang demikianlah adanya? 'Rasa' yang hadir itu memang bagian dari mekanisme 'normal' perjalanan hidup. "Kulit ari"nya memang untuk pemenuhan 'ego' pribadi. Secara hormonal, memang demikianlah proses yang alami. Dari perspektif evolusi, pola tingkah yang demikian memang hasil 'seleksi alam' yang paling sesuai.

Namun dalam perjalanannya, 'ego' itu bisa jadi mengalami perkembangan. Yang semula sebatas kesadaran atas diri pribadi, berkembang menjadi 'pribadi' yang lebih luas. Engkau dan pasanganmu, engkau dan keluargamu, tetangga-tetangga sekitarmu, komunitas, trah, golongan, kaum, bangsa, dan seterusnya. Meski seringkali untuk 'naik kelas' memiliki ego yang 'meluas' seperti itu sangat tidak mudah. Sampai ujung waktu pun, sangat mungkin masih berkutat di level 'pribadi' terendah.

Memang tidak bisa disalahkan ketika ada yang masih berkutat di situ-situ saja. Setiap orang memiliki kadar kendali atas egonya masing-masing. Benturan antar 'ego' sudah bukan perkara asing. Dan justru dari situlah drama maha kolosal kehidupan berjalan, dan acapkali bikin kita yang terlibat di dalamnya pusing.

Jadi, woles saja. Hidup memang demikian adanya. Kalau suatu ketika dihadirkan 'rasa' itu padamu, entah kepada apa atau siapa, nikmati saja. Perkara 'rasa' itu berujung pada pemenuhan 'ketenangan' batinmu, atau sebaliknya, malah bikin makin merana, maka pandai-pandai saja mengelola 'ego', ya!

" 'Aku' sayang 'kamu' ".

Rabu, 02 Mei 2018

Allahu "batur" Aalamiin

Seringkali terlintas di fikiranku, manusia itu benar-benar “nglamak”. Dikasih kesempatan meminta, yang keluar bukan lagi permintaan, tapi lebih kepada perintah. Memaksa pula. Bahkan sampai menyodorkan ‘sogokan’ yang sebenarnya sangat tidak seberapa, tapi dengan muka tebal dan kadar malu yang hampir nihil, bahkan penuh kebanggaan, menyuruh untuk segera dipenuhi permintaannya. Siapa lagi yang disuruh kalau bukan satu-satunya tempat meminta, Tuhan “Rabbul ‘alamin”, namun belakangan di’mutasi’ menjadi “Batur ‘alamin”.

Memang ‘icon’ utamaNya adalah sifat Rahman dan Rahim. Cinta kasih yang maha meluas dan mendalam. Bahkan senantiasa meluas dan mendalam. Infinitum. Cinta kasihNya selalu mendahului murkaNya. Dan memang demikianlah Dia memperkenalkan diriNya pada kita. Karena mustahil kita bisa menemukanNya, dengan metode dan ‘washilah’ bikinan kita sendiri. Paling mentok, yang kita temukan hanyalah indikasi tentang keberadaanNya.  Namun  setelah kita diperkenankan untuk mengenalNya, kita  mulai berani ‘semena-mena’ kepadaNya, ngelunjak lantaran ke-Maha Pemurah-anNya. Itulah kita. Itulah aku.

Hubungan abdi-‘bendara’, hamba-paduka Maha Raja Diraja mendadak profan menjadi sekedar hubungan transaksional biasa. Hubungan profesionalitas jual beli amal-pahala. Sedekah sekian juta, tukar kapling surga sekian meter persegi. Kalo perlu jatah surganya nanti saja, diganti balik modal 10 kali lipat di dunia saja. Biar iman ini makin sempurna, kalo balasannya bisa kejadian seketika itu  juga. Tuhan pun manggut-manggut saja. “Kasihan”, barangkali begitu batinNya. Kita menagih janji Tuhan, seolah-olah Tuhan punya hutang pada kita. Kurang ‘kurang ajar’ apalagi? Kita tidak memiliki investasi apa-apa terhadap kehidupan ini. Bahkan sekedar berkehandak saja, kalo bukan karena ‘kehendak’Nya, bagaimana bisa terjadi?

Yang lebih nista lagi, kita mebawa-bawa nama Muhammad di setiap ‘perintah’ bermodus do’a kepadaNya. Lantaran karena memang dialah kekasihNya, yang selalu di’sholat’iNya (sholat, bentuk tunggal dari sholawat) setiap saat. Seolah-olah kita menyandera Muhammad sang Kekasih, demi bisa terlaksana apa permintaan kita padaNya.

Do’a yang semestinya adalah sapaan mesra hamba pada Tuannya, berubah menjadi perintah yang harus dilaksanakan saat itu juga.

“duh Gusti, mbok wedokan kae nek  iso nJenengan dadekaken bojo kulo, fiddiini wad dunya, wal akhiroh!! Washollalloohu ‘alaa sayyidinaa wa maulaana Muhammad, wa ‘alaa aalihii washohbihii wasallam.”

“aamiin”.

Senin, 30 April 2018

Dharma memang Dramatis

Di tengah nonton film "Infinity War",  sempat terfikirkan, Thanos ini pasti pelaku 'suluk' yang ga main-main. Salikin bertaraf intergalaksi. 'Sufi' akbar yang telah mengenal 'diri'nya, dan all out menempuh 'peran'nya dengan sangat dramatis. Peran yang menjadi 'dharma' dalam meniti takdirnya.

Layaknya peran yang disangga Bhisma untuk setia pada sumpahnya mengawal singgasana Hastinapura, meski hatinya selalu terpaut pada cucu Pandawanya. Mirip pula dengan gejala peran Sang 'Kanzul Jannah' Azazil untuk melakoni drama abadi sebagai Iblis yang dilaknat, meski konon dia adalah makhluk  yang hampir sempurna kema'rifatannya. Juga sebenarnya peran-peran segala jenis ciptaan untuk menduduki fungsinya dalam konstelasi sunnatullah. Hanya saja bagi kita, ciptaan khusus yang dibekali kesadaran, naluri, dan akal, peran-peran yang bertolak belakang dengan 'common sense' selalu terlihat buruk dan wajib dibasmi. Padahal justru tanpa adanya peran-peran itu, dilektika kehidupan tidak akan terjadi. Contoh kecil saja, kita sering menyangka singa itu kejam lantaran menerkam rusa sebagai mangsa buruan. Namun jika peran singa diubah menjadi makhluk vegetarian, ekosistem akan gagal berjalan. Dan itu lebih kejam.

Balik lagi ke Begawan Thanos, peran yang disangganya sebagai 'agen penyeimbang' semesta, memaksanya melakukan segala hal meski bertentangan dengan nuraninya. Termasuk mengorbankan putri yang dicintainya demi berjalannya peran itu. Sayangnya dia bukan baginda Ibrahim, karena pasti sang putri sudah ditukar menjadi kambing. Maka makin menderitalah dia karena kehilangan apa yang dicintainya. Di sinilah menurutku sebenarnya letak dharma. Hal yang harus kita lakukan, bagaimanapun caranya. Terlepas dari motif suka dan tidak suka. Juga tidak ada urusan dengan adanya upah, reward, imbalan dan balas jasa, atau transaksi yang bersifat profesional lainnya.

Pertanyaan pentingnya, jalan dharma manakah yang harus kita tempuh dalam hidup ini? Setiap kita buta akan takdir masing-masing. Dalam kebutaan itu, peran yang mana yang mesti kita ambil? Maka lagi-lagi ini berkaitan tentang pengenalan 'diri' dan juga kedaulatan untuk bisa menjadi diri sendiri. Kalau engkau "kambing", maka berperanlah sebagai "kambing". Jangan berlaku menjadi "ayam", "singa", atau yang lain. Bekal berupa watak, bakat, pengalaman-pengalaman yang telah dilalui, minat dan ketertarikan pada bidang-bidang apa saja, 'blend' dengan kondisi dan lingkungan yang bagaimana, juga apapun saja yang menjadikanmu autentik sebagai dirimu. Terbuka terhadap apa saja yang 'menampakkan diri' dan 'ditimpakan' kepadamu. Nampaknya seumur hidup pun akan selalu berkutat pada pencarian ini. Karena bisa jadi dharma itu adalah pengenalanmu terhadap dirimu sendiri.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
"Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Rabb-nya"

Jumat, 27 April 2018

Pendekar "Ahlul" Wajar

Dulu simbah pernah 'ngendikan', "Ilmu puncak bagi seorang pendekar adalah bersikap wajar. Dan itu sangatlah sukar". Beliau memang bukan simbah 'biologis', namun perjalananku yang akhirnya membuatku menganggap beliau sebagai simbah. Mirip-mirip anggapan Bambang Ekalaya terhadap status 'guru' pada Resi Durna. Meski Mbah Durna-ku ini pasti menerima siapa saja yang mendatanginya, tidak pilih-pilih mana yang wangsa ksatria mana yang bukan.

Kewajaran dalam bersikap barangkali hal yang kurang dianggap bagi kebanyakan orang, pun bagiku. Karena hanya segelintir orang saja yang nampaknya punya kesadaran linuwih terhadap posisinya di segala sikon. Paham terhadap situasi di sekitarnya, juga peka pada kondisi orang-orangnya, bahkan bisa jadi sampai semua entitas non-manusia di sekitarnya :p.

Sejauh ini, 'wajar' yang kutangkap adalah output sikap seseorang terhadap segala situasi di sekelilingnya dengan didasari pemahaman atas dirinya sendiri di situasi tersebut. Tentunya hal ini memerlukan jam terbang yang sangat tidak sedikit. Memahami situasi sekitar sudah memerlukan pengalaman tertentu, sedang memahami diri sendiri adalah proses kontinu yang tidak bisa berhenti sampai habis jatah waktu. Sukar? Pasti!

'Wajar' sudah pasti bukan bersikap menyembunyikan 'kemampuan' yang dimiliki, namun tau kapan dan di mana mengaplikasikan kemampuannya itu. Barangkali bakal agak bias dengan bersikap normal. Karena normal cenderung bersifat "rata-rata", sementara seseorang sangat mungkin berada pada posisi dan situasi yang belum pernah ada yang mengalaminya, dan belum ada referensi 'statistik' atau studi psikologis tentang bagaimana sikap seseorang jika berada di posisi dan situasi seperti itu.

Barangkali yang bisa dijadikan bekal adalah pengalaman pribadi masing-masing. Sejauh ini sudah 'diperjalankan' ke mana saja. Ditempatkan di mana saja. Diperkenankan memegang amanah apa saja. Dipertemukan dan diperjumpakan dengan orang-orang dan peristiwa apa saja. Pelajaran-pelajaran dari sana, jika ditelateni, akan sangat berharga untuk dijadikan bekal untuk menempuh perjalanan berikutnya.

Melelahkan? Sepertinya iya! Karena melelahkan-nya itulah, kebanyakan orang enggan menginventarisir apa saja yang telah diperoleh selama perjalanannya yang telah lalu. Lebih mengasyikkan larut dalam situasi yang sedang dialami, apalagi dengan kendali atas nafsu dan keinginan pribadi yang sekenanya. Maka ketika dipertemukan dengan peristiwa yang serupa, 'kesalahan' yang sama seringkali terulang juga.

Konon ketika kita berjumpa dengan jenis situasi yang sama, maka sebenarnya kita belum benar-benar 'lulus' melaluinya. Remidi terus!

Dan ini sangat relevan jika ada yang membatin, "Ngejar wedokan, luput terus!"

Harmoni qiblat

Hal yg cair pun ada kalanya berkelompok menurut densitas dan polaritasnya masing-masing. Pun perkara-perkara yg lain, apapun itu. Mereka memiliki kecenderungannya masing-masing. Qur'an menyebutnya “walikulli wijhatun huwa muwalliihaa” (al-Baqarah 148), secara ‘cair’ bisa dimaknai “terhadap setiap (entitas apapun) terdapat qiblat (kecenderungan, tendensi) yg kepadanya dia menghadap”. Kata ‘kullun’ pada frasa ‘walikulli’ secara harfiah berarti 'setiap, tiap-tiap’, dan tidak salah jika dibiarkan 'cair’ untuk merujuk pada apapun saja, meski kebanyakan literatur memaknai lebih spesifik dg merujuk pada 'tiap-tiap ummat’. Namun fokus penggalan ayat tersebut terletak pada kenyataan adanya keragaman 'qiblat’ bagi si 'kullun’. Ternyata keragaman tendensi itu memang sudah default. 'Gawan bayi’. Terhadap apapun. Polaritas cairan ternyata beragam. Frekuensi gelombang beragam. Agama dan kepercayaan manusia beragam. Madzhab-madzhab dan aliran sektariannya beragam. Afiliasi politik beragam. Klub bola yg digandrungi beragam. Keragaman yg hampir tak terbatas dan semuanya memiliki 'ummat'nya masing-masing. Bhinneka itu sunnatullah. Pluralitas itu 'gawan bayi’. Maka yg musti dilakukan adalah seperti yg disarankan Qur'an pada kelanjutan ayat tadi. “Fastabiqul khairaat”. “Saling berlomba-lombalah (dalam berlaku, membuat, menebarkan) kebaikan”.
Menjalin harmoni dg 'ummat’ yang berlainan 'qiblat’. Bukan saling meniadakan. Ummat 'Do’ beriringan dg ummat 'Mi’ dan 'Sol’ membentuk harmoni 'Mayor’. Ummat 'susu’, 'madu’, 'telur’, dan 'jahe’ berharmoni jadi STMJ. Jawa, Minang, Batak, Bugis, Nias, Dayak, dsb, berharmoni membentuk Nusantara. PKS, Demokrat, PDI, Gerindra, PKB, berharmoni dlm demokrasi. Presiden, DPR, MA, BPK berharmoni dlm penyelenggaraan negara.
Harmoni dalam arti saling berkontribusi demi kebaikan bersama. Dosisnya pas. Tepat takaran sesuai kapasitas. Tidak kemaruk dan melampaui batas.

Ah, dan satu lagi.. aku dan kamu, berharmoni membentuk kita.

Kamis, 26 April 2018

Hijrah

Bukan perkara apa-apa. Ini sekedar pindahan biasa. Dari wahana narsis yang lama ke wahana baru. Layanan situs blogging yang lama ternyata banyak trouble di mana-mana. Menuntut resep koneksi data khusus dan tidak biasa. Lantaran hasrat untuk narsis yang menggelora, maka hijrah inilah pilihan satu-satunya. Pilihan-pilihan yang lain tidak perlu dianggap karena memang tidak ada. Kalaupun ada, pasti tidak kupilih, karena sejak semula aku berkomitmen untuk setia. Ini hanya wahananya saja yang berbeda, penumpang dan tujuannya tetap sama. Cinta sebagai muatannya, rindu wujud rutenya, dan engkau muaranya.

Salah, hah? Mana?