Jadi kalo si orang itu masih sering nongol sampai taraf mengganggu dan bisa dicatatkan dalam delik aduan pidana perbuatan tidak menyenangkan, padahal maksudnya ya menagih, "hei, kelakuanmu kemaren itu salah lho. Masak ga paham? Adab menolak bukan seperti itu! Itu namanya merendahkan! Ya meski perkara yg sebelum-sebelumnya memang aku punya andil salah juga sih. Sejujurnya bukan penolakanmu, tapi caramu menolak atas niat baikku kemaren sungguh keterlaluan dan di luar nalar! Ditolak saja sudah pasti kecewa, apalagi dengan cara seperti itu! Ini sengaja caper di depanmu minimal biar dapat basa-basimu buat menyebut kata maaf atas momen kemaren itu. Ya, biar ada alasan buat memberi maaf, sekalipun mintanya cuma basa-basi". Tinggal kau sampaikan saja kepada orang itu, "Anda sudah saya do'akan yang baik-baik. Jadi jangan ganggu saya lagi". Hingga orang itu pun cuman bisa bengong, "Dia salah, hah? Salah nya mana?".
Di tengah kebengongannya, lamat-lamat terselip prasangka di pikirannya, "hoiya, hijrahnya mengantarkannnya pada cahaya. Manusia yang tercahayai, pasti selalu dalam naungan hidayahNya. Hidayah tidak mungkin salah. Sesalah apapun perangainya menurutku, pasti teranulir oleh hidayah yang digapainya. Bukankah Tuhan Maha Memberi Hidayah sekaligus Maha Menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya? Pasti dia yang mendapat hidayah dan sebrengsek apapun dia menurutku, pastilah dia selalu benar. Sementara aku pastilah pihak yang disesatkan, berhabitat di gelapnya palung kedholiman. Berbekal hujjah menggunung pun, wajib dianggap sebagai kesalahan."
Memang orang dholim sudah sepantasnya diperlakukan seperti itu. Berlaku brengsek kepada orang dholim adalah kebenaran haqiqi. Mengindahkannya adalah kesalahan fatal. Tidak layak meminta maaf pada pihak yang berlaku dholim. Maka "hidayah" yang sampai kepadamu untuk mengabaikan orang itu adalah wahyu paripurna yang akan mengangkat maqammu sejajar wali-wali. Bukankah pendapat wali sekaliber Syaikh Ibnu Atha'illah Al-Iskandari pun sudah bisa kau koreksi? Itu menandakan kedudukanmu sudah di atas beliau, melebihi para wali di penjuru negeri ini.
Mau berlaku seperti apapun, yang namanya ahli hidayah selevel wali sepertimu, pasti memiliki esensi dan haqiqat kebenaran yang luput dari pandangan mata si dholim. Berrelasi dengan siapapun, memuaskan nafsu sebagaimanapun, pasti memiliki pembenarannya. Lha wong dituntun langsung oleh hidayahNya kok.
Biarkan saja si dholim itu terus bergumam, "Dia salah, hah? Mana...??". Meski di dalam hatinya selalu eksis endapan kesumat dendam, "Masak gak salah kok bisa menyisakan residu dendam seperti ini?". Maka si dholim pun cuman bisa berserah, sambil sesekali mengutuk, namun tetap dengan pamrih meminta: "Ya Robbi! yasudah, tidak perlulah Engkau menghidayahi dia untuk kembali mengindahkan hamba atau minimal menyebut kata maaf kepada hamba. Tapi mbok ya Paduka angkat rasa dendam ini. Karena nampaknya meski dengan dia menyebut kata maaf pun, tanpa perkenan dari Paduka, dendam ini sepertinya tetap membekas dan sukar terangkat. Dia dan kubunya pasti berlaku demikian sesuai dengan petunjukMu. Dan petunjukMu pastilah benar. Bagaimana mungkin hamba bisa dendam pada kebenaran? Kecuali Paduka memang menghendaki hamba menuntutnya di majelis hisab-Mu. Maka dengan perkenanMu pula, matikan hamba dengan tetap membawa dendam ini. Tapi Padukan kan Maha Rohman-Rahim, sejujurnya mbok ya dibikin saja dia mengindahkan hamba kembali. Dan entah gimana caranya yang terserah Paduka, yang Paduka skenariokan sendiri jalannya, keinginan terdalam hamba kepada dia mbok ya Paduka perkenankan. Paduka kan 'alaa kulli syai'in qadiir".
Agaknya si dholim semakin dalam palung kedholimannya. Bagaimana mungkin menuntut kebenaran di majelis hisab-Nya kelak? Dasar!
Maka, duhai wali agung yang dengan eksklusivitas cintaNya kepadamu sehingga kewalianmu disamarkanNya, yang begitu digandrungi dan dicintai oleh si dholim, tetaplah berlaku abai dan cuek pada si dholim itu. Karena dengan begitu, kedholimannya akan bermuara kepadamu saja, tidak menjalar kepada yang lain. Biarkan sampai mati dia terus bergumam, "Dia salah, hah? Mana..??", Meski diam-diam dia terus meminta "allahummaj'alhaa khoirun lii, waqdurha lii, wayassirha lii, birahmatika yaa arhamarraahimiin". Namun dengan sedikit kesadaran kehambaannya dia menambahi "rabbii inni limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir". Tapi tetap mem-fetakompli dengan "innamaa amruhuu idzaa arooda syai'an ayyaquula lahuu, kun fayakuun".
Begitulah kelakuan si dholim. Meminta pun tetap saja dholim. Abaikan terus sebagaimana yang dihidayahkan sekarang kepadamu. Sampai Dia berkenan menghidayahimu sebagaimana permintaan si dholim. Atau sekehendak Dia saja, menghidayahimu seperti apa. Toh si dholim mau berlaku sedholim apapun, tak akan pernah lepas dari rahmatNya. Nanti si dholim juga bakal paham sendiri, kondisi apapun yang dia terima, itu adalah wujud rahmatNya juga. Tapi untuk sekarang, level pembelajarannya masih pada taraf menggerutui rasa dendamnya sendiri dengan terus menggumam:
"Dia salah, hah? Mana..???"
Termasuk kalau sampai mati pun, si dholim tetap berlaku demikian. Maka biarkan saja. Itu ganjaran yang pantas buat dia yang dholim. Tenang saja kalau dituntut di majelis hisabNya. Toh sudah pasti engkau dibelaNya.
Wali sepertimu, berlaku sesuka-sukamu saja, karena itu sudah pasti mauNya juga.
Dasar dholim! Sudah tau kalo dirinya dholim kok masih suka mengatur-atur Tuhannya! Barangkali dia tidak memiliki informasi yang cukup sehingga membuat pandangannya cupet dan berakibat dholim seperti itu. Tapi mau menggali informasi dari mana? Toh dia tidak memiliki akses untuk memperoleh informasi yang valid. Jadinya dholim dengan memprasangkai segala hal terkait dirimu, lantas semakin terjerumus kedholimannya, menyangka prasangkanya sebagai realita. Untungnya si dholim masih ditakdirkan untuk rajin berdo'a. Meski doanya penuh pamrih dan tendensius, semoga saja kelak ditakdirkan juga untuk beredo'a dengan kadar penghambaan yang lebih tinggi lagi kualitasnya.
Buat wali sekaliber dirimu, rahmatNya pasti terus mengalir, membanjiri seluruh dimensimu. Kelak, engkau pasti dipersilakan memasuki surgaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar