Memang ‘icon’ utamaNya adalah sifat Rahman dan Rahim. Cinta kasih yang maha meluas dan mendalam. Bahkan senantiasa meluas dan mendalam. Infinitum. Cinta kasihNya selalu mendahului murkaNya. Dan memang demikianlah Dia memperkenalkan diriNya pada kita. Karena mustahil kita bisa menemukanNya, dengan metode dan ‘washilah’ bikinan kita sendiri. Paling mentok, yang kita temukan hanyalah indikasi tentang keberadaanNya. Namun setelah kita diperkenankan untuk mengenalNya, kita mulai berani ‘semena-mena’ kepadaNya, ngelunjak lantaran ke-Maha Pemurah-anNya. Itulah kita. Itulah aku.
Hubungan abdi-‘bendara’, hamba-paduka Maha Raja Diraja mendadak profan menjadi sekedar hubungan transaksional biasa. Hubungan profesionalitas jual beli amal-pahala. Sedekah sekian juta, tukar kapling surga sekian meter persegi. Kalo perlu jatah surganya nanti saja, diganti balik modal 10 kali lipat di dunia saja. Biar iman ini makin sempurna, kalo balasannya bisa kejadian seketika itu juga. Tuhan pun manggut-manggut saja. “Kasihan”, barangkali begitu batinNya. Kita menagih janji Tuhan, seolah-olah Tuhan punya hutang pada kita. Kurang ‘kurang ajar’ apalagi? Kita tidak memiliki investasi apa-apa terhadap kehidupan ini. Bahkan sekedar berkehandak saja, kalo bukan karena ‘kehendak’Nya, bagaimana bisa terjadi?
Yang lebih nista lagi, kita mebawa-bawa nama Muhammad di setiap ‘perintah’ bermodus do’a kepadaNya. Lantaran karena memang dialah kekasihNya, yang selalu di’sholat’iNya (sholat, bentuk tunggal dari sholawat) setiap saat. Seolah-olah kita menyandera Muhammad sang Kekasih, demi bisa terlaksana apa permintaan kita padaNya.
Do’a yang semestinya adalah sapaan mesra hamba pada Tuannya, berubah menjadi perintah yang harus dilaksanakan saat itu juga.
“duh Gusti, mbok wedokan kae nek iso nJenengan dadekaken bojo kulo, fiddiini wad dunya, wal akhiroh!! Washollalloohu ‘alaa sayyidinaa wa maulaana Muhammad, wa ‘alaa aalihii washohbihii wasallam.”
“aamiin”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar