Pada titik kesadaran tertentu, ada persepsi bahwa segala yang kita perbuat, segala yang kita alami, semua kejadian yang menimpa kita, adalah kehendak Sang Maha. Pada kesadaran itu pula, sangat wajar muncul keyakinan bahwa segala keputusan kita, semata-mata hanyalah sebagian dari keputusanNya. Apapun resiko dari keputusan itu. Memang tidak bisa dibantah kebenaran pandangan ini. Yang jadi persoalan adalah: ketika terlalu teguh berprinsip demikian, namun abai dengan liyan, maka 'aku' akan menjelma Sang Maha Aku. Sangat rentan tergelincir untuk berlaku sekehendak 'aku' dengan dalih Sang Maha Aku memang berkehendak seperti itu. Namun ada hal yang agaknya kurang diperhatikan: Sang Maha Aku ternyata juga berlaku sama pada semua 'aku' yang berdiaspora di seantero semesta.
Maka dalih: "keputusanku ini semata-mata adalah kehendak Tuhan, maka terimalah!", akan beradu dengan argumen: "Hei, kehendak Tuhan juga ambil peranan sehingga aku melakukan ini!".
Ruwet?? Yaa memang!
Maka seperti Sang Maha Aku "bocorin" sendiri:
قُلۡ إِن ضَلَلۡتُ فَإِنَّمَاۤ أَضِلُّ عَلَىٰ نَفۡسِیۖ وَإِنِ ٱهۡتَدَیۡتُ فَبِمَا یُوحِیۤ إِلَیَّ رَبِّیۤۚ إِنَّهُۥ سَمِیعࣱ قَرِیبࣱ
[Saba':50]