Senin, 30 April 2018

Dharma memang Dramatis

Di tengah nonton film "Infinity War",  sempat terfikirkan, Thanos ini pasti pelaku 'suluk' yang ga main-main. Salikin bertaraf intergalaksi. 'Sufi' akbar yang telah mengenal 'diri'nya, dan all out menempuh 'peran'nya dengan sangat dramatis. Peran yang menjadi 'dharma' dalam meniti takdirnya.

Layaknya peran yang disangga Bhisma untuk setia pada sumpahnya mengawal singgasana Hastinapura, meski hatinya selalu terpaut pada cucu Pandawanya. Mirip pula dengan gejala peran Sang 'Kanzul Jannah' Azazil untuk melakoni drama abadi sebagai Iblis yang dilaknat, meski konon dia adalah makhluk  yang hampir sempurna kema'rifatannya. Juga sebenarnya peran-peran segala jenis ciptaan untuk menduduki fungsinya dalam konstelasi sunnatullah. Hanya saja bagi kita, ciptaan khusus yang dibekali kesadaran, naluri, dan akal, peran-peran yang bertolak belakang dengan 'common sense' selalu terlihat buruk dan wajib dibasmi. Padahal justru tanpa adanya peran-peran itu, dilektika kehidupan tidak akan terjadi. Contoh kecil saja, kita sering menyangka singa itu kejam lantaran menerkam rusa sebagai mangsa buruan. Namun jika peran singa diubah menjadi makhluk vegetarian, ekosistem akan gagal berjalan. Dan itu lebih kejam.

Balik lagi ke Begawan Thanos, peran yang disangganya sebagai 'agen penyeimbang' semesta, memaksanya melakukan segala hal meski bertentangan dengan nuraninya. Termasuk mengorbankan putri yang dicintainya demi berjalannya peran itu. Sayangnya dia bukan baginda Ibrahim, karena pasti sang putri sudah ditukar menjadi kambing. Maka makin menderitalah dia karena kehilangan apa yang dicintainya. Di sinilah menurutku sebenarnya letak dharma. Hal yang harus kita lakukan, bagaimanapun caranya. Terlepas dari motif suka dan tidak suka. Juga tidak ada urusan dengan adanya upah, reward, imbalan dan balas jasa, atau transaksi yang bersifat profesional lainnya.

Pertanyaan pentingnya, jalan dharma manakah yang harus kita tempuh dalam hidup ini? Setiap kita buta akan takdir masing-masing. Dalam kebutaan itu, peran yang mana yang mesti kita ambil? Maka lagi-lagi ini berkaitan tentang pengenalan 'diri' dan juga kedaulatan untuk bisa menjadi diri sendiri. Kalau engkau "kambing", maka berperanlah sebagai "kambing". Jangan berlaku menjadi "ayam", "singa", atau yang lain. Bekal berupa watak, bakat, pengalaman-pengalaman yang telah dilalui, minat dan ketertarikan pada bidang-bidang apa saja, 'blend' dengan kondisi dan lingkungan yang bagaimana, juga apapun saja yang menjadikanmu autentik sebagai dirimu. Terbuka terhadap apa saja yang 'menampakkan diri' dan 'ditimpakan' kepadamu. Nampaknya seumur hidup pun akan selalu berkutat pada pencarian ini. Karena bisa jadi dharma itu adalah pengenalanmu terhadap dirimu sendiri.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
"Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Rabb-nya"

Jumat, 27 April 2018

Pendekar "Ahlul" Wajar

Dulu simbah pernah 'ngendikan', "Ilmu puncak bagi seorang pendekar adalah bersikap wajar. Dan itu sangatlah sukar". Beliau memang bukan simbah 'biologis', namun perjalananku yang akhirnya membuatku menganggap beliau sebagai simbah. Mirip-mirip anggapan Bambang Ekalaya terhadap status 'guru' pada Resi Durna. Meski Mbah Durna-ku ini pasti menerima siapa saja yang mendatanginya, tidak pilih-pilih mana yang wangsa ksatria mana yang bukan.

Kewajaran dalam bersikap barangkali hal yang kurang dianggap bagi kebanyakan orang, pun bagiku. Karena hanya segelintir orang saja yang nampaknya punya kesadaran linuwih terhadap posisinya di segala sikon. Paham terhadap situasi di sekitarnya, juga peka pada kondisi orang-orangnya, bahkan bisa jadi sampai semua entitas non-manusia di sekitarnya :p.

Sejauh ini, 'wajar' yang kutangkap adalah output sikap seseorang terhadap segala situasi di sekelilingnya dengan didasari pemahaman atas dirinya sendiri di situasi tersebut. Tentunya hal ini memerlukan jam terbang yang sangat tidak sedikit. Memahami situasi sekitar sudah memerlukan pengalaman tertentu, sedang memahami diri sendiri adalah proses kontinu yang tidak bisa berhenti sampai habis jatah waktu. Sukar? Pasti!

'Wajar' sudah pasti bukan bersikap menyembunyikan 'kemampuan' yang dimiliki, namun tau kapan dan di mana mengaplikasikan kemampuannya itu. Barangkali bakal agak bias dengan bersikap normal. Karena normal cenderung bersifat "rata-rata", sementara seseorang sangat mungkin berada pada posisi dan situasi yang belum pernah ada yang mengalaminya, dan belum ada referensi 'statistik' atau studi psikologis tentang bagaimana sikap seseorang jika berada di posisi dan situasi seperti itu.

Barangkali yang bisa dijadikan bekal adalah pengalaman pribadi masing-masing. Sejauh ini sudah 'diperjalankan' ke mana saja. Ditempatkan di mana saja. Diperkenankan memegang amanah apa saja. Dipertemukan dan diperjumpakan dengan orang-orang dan peristiwa apa saja. Pelajaran-pelajaran dari sana, jika ditelateni, akan sangat berharga untuk dijadikan bekal untuk menempuh perjalanan berikutnya.

Melelahkan? Sepertinya iya! Karena melelahkan-nya itulah, kebanyakan orang enggan menginventarisir apa saja yang telah diperoleh selama perjalanannya yang telah lalu. Lebih mengasyikkan larut dalam situasi yang sedang dialami, apalagi dengan kendali atas nafsu dan keinginan pribadi yang sekenanya. Maka ketika dipertemukan dengan peristiwa yang serupa, 'kesalahan' yang sama seringkali terulang juga.

Konon ketika kita berjumpa dengan jenis situasi yang sama, maka sebenarnya kita belum benar-benar 'lulus' melaluinya. Remidi terus!

Dan ini sangat relevan jika ada yang membatin, "Ngejar wedokan, luput terus!"

Harmoni qiblat

Hal yg cair pun ada kalanya berkelompok menurut densitas dan polaritasnya masing-masing. Pun perkara-perkara yg lain, apapun itu. Mereka memiliki kecenderungannya masing-masing. Qur'an menyebutnya “walikulli wijhatun huwa muwalliihaa” (al-Baqarah 148), secara ‘cair’ bisa dimaknai “terhadap setiap (entitas apapun) terdapat qiblat (kecenderungan, tendensi) yg kepadanya dia menghadap”. Kata ‘kullun’ pada frasa ‘walikulli’ secara harfiah berarti 'setiap, tiap-tiap’, dan tidak salah jika dibiarkan 'cair’ untuk merujuk pada apapun saja, meski kebanyakan literatur memaknai lebih spesifik dg merujuk pada 'tiap-tiap ummat’. Namun fokus penggalan ayat tersebut terletak pada kenyataan adanya keragaman 'qiblat’ bagi si 'kullun’. Ternyata keragaman tendensi itu memang sudah default. 'Gawan bayi’. Terhadap apapun. Polaritas cairan ternyata beragam. Frekuensi gelombang beragam. Agama dan kepercayaan manusia beragam. Madzhab-madzhab dan aliran sektariannya beragam. Afiliasi politik beragam. Klub bola yg digandrungi beragam. Keragaman yg hampir tak terbatas dan semuanya memiliki 'ummat'nya masing-masing. Bhinneka itu sunnatullah. Pluralitas itu 'gawan bayi’. Maka yg musti dilakukan adalah seperti yg disarankan Qur'an pada kelanjutan ayat tadi. “Fastabiqul khairaat”. “Saling berlomba-lombalah (dalam berlaku, membuat, menebarkan) kebaikan”.
Menjalin harmoni dg 'ummat’ yang berlainan 'qiblat’. Bukan saling meniadakan. Ummat 'Do’ beriringan dg ummat 'Mi’ dan 'Sol’ membentuk harmoni 'Mayor’. Ummat 'susu’, 'madu’, 'telur’, dan 'jahe’ berharmoni jadi STMJ. Jawa, Minang, Batak, Bugis, Nias, Dayak, dsb, berharmoni membentuk Nusantara. PKS, Demokrat, PDI, Gerindra, PKB, berharmoni dlm demokrasi. Presiden, DPR, MA, BPK berharmoni dlm penyelenggaraan negara.
Harmoni dalam arti saling berkontribusi demi kebaikan bersama. Dosisnya pas. Tepat takaran sesuai kapasitas. Tidak kemaruk dan melampaui batas.

Ah, dan satu lagi.. aku dan kamu, berharmoni membentuk kita.

Kamis, 26 April 2018

Hijrah

Bukan perkara apa-apa. Ini sekedar pindahan biasa. Dari wahana narsis yang lama ke wahana baru. Layanan situs blogging yang lama ternyata banyak trouble di mana-mana. Menuntut resep koneksi data khusus dan tidak biasa. Lantaran hasrat untuk narsis yang menggelora, maka hijrah inilah pilihan satu-satunya. Pilihan-pilihan yang lain tidak perlu dianggap karena memang tidak ada. Kalaupun ada, pasti tidak kupilih, karena sejak semula aku berkomitmen untuk setia. Ini hanya wahananya saja yang berbeda, penumpang dan tujuannya tetap sama. Cinta sebagai muatannya, rindu wujud rutenya, dan engkau muaranya.

Salah, hah? Mana?