Jumat, 13 September 2019

Tadabbur Ajal

*Sejak setaon lalu, pengen 'nggambleh' bab ini.. Tapi tiap kali posting, selalu gagal dan terhapus. Cb posting judulnya doank, apakah 'ajal' gagal postingnya udh nyampe?

Rabu, 16 Mei 2018

Puasa, pause

Bukankah musik bisa dinikmati ketika ada irama yang turut mendasari..? Sementara irama sendiri adalah manajemen 'jeda', supaya bunyi bisa memiliki 'pola'. Nada yang teruntai tanpa diselipi jeda bukankah sangat membosankan?
Bahkan bisa jadi ‘jeda’ adalah semesta musik itu sendiri. Dia kanvas yang menampung seluruh bunyi.

Pada konteks yang lain, bukankah munculnya kehidupan di bumi lantaran adanya 'jeda’ yang presisi antara dia dan matahari?
Adanya tatanan sosial dlm sejarah panjang peradaban manusia, bukankah tentang manajemen 'jeda’ dalam hubungan mu'ammalah mereka?

Maka mereka yang selamat, mereka yang hidupnya musikal, adalah mereka yang pandai dalam mengatur 'jeda’. Presisi menempatkan diri. Paham dalam mengelola batasan. Karena konon, puncak dari kebebasan adalah pemahaman atas batasan-batasan.

Barangkali di situlah puasa diperlukan.

Puasa, pause.

Senin, 07 Mei 2018

Neraka Surgawi

"Muridku, tahukah kamu kalau konon ada neraka tapi wujudnya surga?", tanya sang guru pada muridnya.

"Tidak, guru. Neraka apakah itu?", jawab si murid.

"Dia sama sekali bukan neraka secara wujud, tapi memang surga. Engkau diizinkan memasukinya. Tapi satu hal yang menyiksa, engkau sama sekali diabaikan oleh Pemiliknya.", pungkas sang guru.

Minggu, 06 Mei 2018

"Allahumma salak"

Seseorang sedang sangat mendambakan salak. Lantaran satu ketika dia tak sengaja melihat sebuah salak, di saat dia memang sedang mengalami lapar, dahaga, dan kerinduan yang amat dalam. Bukan kepada salak lapar, dahaga, lapar, dan rindunya tertuju, tapi dengan adanya salak, dia menyangka lapar, dahaga, dan rindunya bisa terbayarkan. Maka mulailah dia bertekad untuk bisa memiliki salak. Dia meyakin-yakinkan dirinya, bahwa memang salak-lah hal yang memang dia butuhkan. Dia berprasangka bahwa salak adalah jawaban atas pencariannya yang dikirimkan Tuhan. Maka dia pun terdoktrin oleh keyakinannya sendiri, mengimani persepsi hatinya sendiri, menganggap nyata prasangka yang dia tanam sendiri. Niatnya membulat, tekadnya membaja, salak adalah wujud paripurna atas jawaban yang selama ini dia minta.
Tak ayal, setiap saat dia membatin permohonan padaNya, biar salak segera bisa dimilikinya. Dalam setiap 'persapaan' denganNya, wirid dan do'a tak pernah surut dilantunkannya, "Allahumma salak, allahummma salak, allahumma salak....", begitu seterusnya. Hingga pada suatu ketika, diutusNyalah Jibril kepada orang itu, dan diperintahkanNya untuk membawa berbagai macam rizki dan fadhilah dariNya berupa Apel, Anggur, Pir, Durian, namun tidak ada Salak. Jibril patuh dan segera melaksanakan titahNya. Sesampai di dekat si orang pendamba salak, Jibril mulai ragu, benarkah semua rizki ini diperuntukkan bagi orang tersebut, lantaran Jibril mendengar lirih do'a yang selalu dipanjatkannya, "allahumma salak, allahumma salak, allahumma salak....". Maka pulang baliklah Jibril menghadap Tuhan. Sesampai di hadapanNya, Tuhan bertanya pada Jibril, "Kok kamu balik ke sini lagi, Jibril? Sudahkah kamu kasihkan rizkiKu pada hambaKu itu?" . Dengan kikuk Jibril menjawab,  "Maaf wahai Tuhanku, hamba tidak mendapati permintaannya ada di list rizkiMu yang hamba bawa atas perintahMu itu, Tuhan." Tuhan pun tersenyum, "Baiklah, tahan saja dulu. Hambaku itu menyangka dia tahu apa yang dia butuhkan, padahal Aku lah yang Maha Mengetahui."

*terinspirasi dari respon Mbah Nun atas pertanyaan salah satu Jama'ah Maiyah di suatu forum Maiyahan

Jumat, 04 Mei 2018

Ego"Tinggal Kelas"

Ketika dirimu menyukai, gandrung, mencintai sesuatu, sebenarnya yang menikmati rasa suka, gandrung, dan cintamu itu  obyek yang kau cintai ataukah dirimu sendiri? Jangan-jangan semua itu hanya bagian dari hasrat pemenuhan keinginanmu, ambisimu, ego pribadimu? Jangan-jangan semua itu sekedar hubungan transaksional belaka?  Lagi-lagi, dalam rangka pencapaian rasa puasmu terhadap segala hal yang kau sangka sebagai prestasi, keunggulan diri atas liyan, prestise dan pamor yang melonjak tinggi, minimal rasa puasmu terhadap pemenuhan 'ketenangan' batinmu sendiri.

Atau memang demikianlah adanya? 'Rasa' yang hadir itu memang bagian dari mekanisme 'normal' perjalanan hidup. "Kulit ari"nya memang untuk pemenuhan 'ego' pribadi. Secara hormonal, memang demikianlah proses yang alami. Dari perspektif evolusi, pola tingkah yang demikian memang hasil 'seleksi alam' yang paling sesuai.

Namun dalam perjalanannya, 'ego' itu bisa jadi mengalami perkembangan. Yang semula sebatas kesadaran atas diri pribadi, berkembang menjadi 'pribadi' yang lebih luas. Engkau dan pasanganmu, engkau dan keluargamu, tetangga-tetangga sekitarmu, komunitas, trah, golongan, kaum, bangsa, dan seterusnya. Meski seringkali untuk 'naik kelas' memiliki ego yang 'meluas' seperti itu sangat tidak mudah. Sampai ujung waktu pun, sangat mungkin masih berkutat di level 'pribadi' terendah.

Memang tidak bisa disalahkan ketika ada yang masih berkutat di situ-situ saja. Setiap orang memiliki kadar kendali atas egonya masing-masing. Benturan antar 'ego' sudah bukan perkara asing. Dan justru dari situlah drama maha kolosal kehidupan berjalan, dan acapkali bikin kita yang terlibat di dalamnya pusing.

Jadi, woles saja. Hidup memang demikian adanya. Kalau suatu ketika dihadirkan 'rasa' itu padamu, entah kepada apa atau siapa, nikmati saja. Perkara 'rasa' itu berujung pada pemenuhan 'ketenangan' batinmu, atau sebaliknya, malah bikin makin merana, maka pandai-pandai saja mengelola 'ego', ya!

" 'Aku' sayang 'kamu' ".

Rabu, 02 Mei 2018

Allahu "batur" Aalamiin

Seringkali terlintas di fikiranku, manusia itu benar-benar “nglamak”. Dikasih kesempatan meminta, yang keluar bukan lagi permintaan, tapi lebih kepada perintah. Memaksa pula. Bahkan sampai menyodorkan ‘sogokan’ yang sebenarnya sangat tidak seberapa, tapi dengan muka tebal dan kadar malu yang hampir nihil, bahkan penuh kebanggaan, menyuruh untuk segera dipenuhi permintaannya. Siapa lagi yang disuruh kalau bukan satu-satunya tempat meminta, Tuhan “Rabbul ‘alamin”, namun belakangan di’mutasi’ menjadi “Batur ‘alamin”.

Memang ‘icon’ utamaNya adalah sifat Rahman dan Rahim. Cinta kasih yang maha meluas dan mendalam. Bahkan senantiasa meluas dan mendalam. Infinitum. Cinta kasihNya selalu mendahului murkaNya. Dan memang demikianlah Dia memperkenalkan diriNya pada kita. Karena mustahil kita bisa menemukanNya, dengan metode dan ‘washilah’ bikinan kita sendiri. Paling mentok, yang kita temukan hanyalah indikasi tentang keberadaanNya.  Namun  setelah kita diperkenankan untuk mengenalNya, kita  mulai berani ‘semena-mena’ kepadaNya, ngelunjak lantaran ke-Maha Pemurah-anNya. Itulah kita. Itulah aku.

Hubungan abdi-‘bendara’, hamba-paduka Maha Raja Diraja mendadak profan menjadi sekedar hubungan transaksional biasa. Hubungan profesionalitas jual beli amal-pahala. Sedekah sekian juta, tukar kapling surga sekian meter persegi. Kalo perlu jatah surganya nanti saja, diganti balik modal 10 kali lipat di dunia saja. Biar iman ini makin sempurna, kalo balasannya bisa kejadian seketika itu  juga. Tuhan pun manggut-manggut saja. “Kasihan”, barangkali begitu batinNya. Kita menagih janji Tuhan, seolah-olah Tuhan punya hutang pada kita. Kurang ‘kurang ajar’ apalagi? Kita tidak memiliki investasi apa-apa terhadap kehidupan ini. Bahkan sekedar berkehandak saja, kalo bukan karena ‘kehendak’Nya, bagaimana bisa terjadi?

Yang lebih nista lagi, kita mebawa-bawa nama Muhammad di setiap ‘perintah’ bermodus do’a kepadaNya. Lantaran karena memang dialah kekasihNya, yang selalu di’sholat’iNya (sholat, bentuk tunggal dari sholawat) setiap saat. Seolah-olah kita menyandera Muhammad sang Kekasih, demi bisa terlaksana apa permintaan kita padaNya.

Do’a yang semestinya adalah sapaan mesra hamba pada Tuannya, berubah menjadi perintah yang harus dilaksanakan saat itu juga.

“duh Gusti, mbok wedokan kae nek  iso nJenengan dadekaken bojo kulo, fiddiini wad dunya, wal akhiroh!! Washollalloohu ‘alaa sayyidinaa wa maulaana Muhammad, wa ‘alaa aalihii washohbihii wasallam.”

“aamiin”.

Senin, 30 April 2018

Dharma memang Dramatis

Di tengah nonton film "Infinity War",  sempat terfikirkan, Thanos ini pasti pelaku 'suluk' yang ga main-main. Salikin bertaraf intergalaksi. 'Sufi' akbar yang telah mengenal 'diri'nya, dan all out menempuh 'peran'nya dengan sangat dramatis. Peran yang menjadi 'dharma' dalam meniti takdirnya.

Layaknya peran yang disangga Bhisma untuk setia pada sumpahnya mengawal singgasana Hastinapura, meski hatinya selalu terpaut pada cucu Pandawanya. Mirip pula dengan gejala peran Sang 'Kanzul Jannah' Azazil untuk melakoni drama abadi sebagai Iblis yang dilaknat, meski konon dia adalah makhluk  yang hampir sempurna kema'rifatannya. Juga sebenarnya peran-peran segala jenis ciptaan untuk menduduki fungsinya dalam konstelasi sunnatullah. Hanya saja bagi kita, ciptaan khusus yang dibekali kesadaran, naluri, dan akal, peran-peran yang bertolak belakang dengan 'common sense' selalu terlihat buruk dan wajib dibasmi. Padahal justru tanpa adanya peran-peran itu, dilektika kehidupan tidak akan terjadi. Contoh kecil saja, kita sering menyangka singa itu kejam lantaran menerkam rusa sebagai mangsa buruan. Namun jika peran singa diubah menjadi makhluk vegetarian, ekosistem akan gagal berjalan. Dan itu lebih kejam.

Balik lagi ke Begawan Thanos, peran yang disangganya sebagai 'agen penyeimbang' semesta, memaksanya melakukan segala hal meski bertentangan dengan nuraninya. Termasuk mengorbankan putri yang dicintainya demi berjalannya peran itu. Sayangnya dia bukan baginda Ibrahim, karena pasti sang putri sudah ditukar menjadi kambing. Maka makin menderitalah dia karena kehilangan apa yang dicintainya. Di sinilah menurutku sebenarnya letak dharma. Hal yang harus kita lakukan, bagaimanapun caranya. Terlepas dari motif suka dan tidak suka. Juga tidak ada urusan dengan adanya upah, reward, imbalan dan balas jasa, atau transaksi yang bersifat profesional lainnya.

Pertanyaan pentingnya, jalan dharma manakah yang harus kita tempuh dalam hidup ini? Setiap kita buta akan takdir masing-masing. Dalam kebutaan itu, peran yang mana yang mesti kita ambil? Maka lagi-lagi ini berkaitan tentang pengenalan 'diri' dan juga kedaulatan untuk bisa menjadi diri sendiri. Kalau engkau "kambing", maka berperanlah sebagai "kambing". Jangan berlaku menjadi "ayam", "singa", atau yang lain. Bekal berupa watak, bakat, pengalaman-pengalaman yang telah dilalui, minat dan ketertarikan pada bidang-bidang apa saja, 'blend' dengan kondisi dan lingkungan yang bagaimana, juga apapun saja yang menjadikanmu autentik sebagai dirimu. Terbuka terhadap apa saja yang 'menampakkan diri' dan 'ditimpakan' kepadamu. Nampaknya seumur hidup pun akan selalu berkutat pada pencarian ini. Karena bisa jadi dharma itu adalah pengenalanmu terhadap dirimu sendiri.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
"Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Rabb-nya"

Salah, hah? Mana?